RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan
beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan
seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya
milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke
mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah
sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat
almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai
dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis
siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.