Hari senin 11
Juni 2012, saya mendapat telpon dari seorang sahabat, intinya meminta saya
untuk melakukan perjalanan ke Avontur, negeri puisi milik Ragil Sukriwul. Saya
beranikan diri untuk menyanggupi apa yang dimintanya walaupun dalam hati saya
berpikir, apa sangu saya cukup untuk dolan ke Avontur? Jangan-jangan nanti
tidak mencukupi dan saya harus nggembel
disana dan pulang ngesot. Saya
berpikir begitu karena sahabat itu, setelah memberi tiket secara jelas ngomong,
“Saya tunggu oleh-oleh dari Avontur.”Keesokan harinya dengan bekal seadanya saya bergegas terbang ke avontur. Di jok pesawat, sebelum menginjakkan kaki di avontur, saya teringat dua hal: Pertama, puisi diciptakan untuk mengabdikan pengalaman tertentu, yaitu pengalaman estetik yang menjadi penghayatan penyairnya.