JAM meja memekik-mekik membangunkan
Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak
mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar
apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada
pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu
60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi,
sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.
“Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat.
“Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat.
