PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan
basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut
pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar
matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa
denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.
Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata
yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya
panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya. Kau
lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera
sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil
anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku.
