Para utusan Lurah Lading Kuning ingin membunuh dan
membuang mayat Syeh Muso ke laut. Tetapi Syeh Bintoro ingin menunjukkan
kepada warga kampung betapa sang penebar ajaran sesat hanyalah seekor
anjing busuk.
.
IA bukan pewarta agama. Dia juga tak
pernah mengajak penduduk di kampung yang setiap senja tiba menjadi surga
bangau itu mengaji di masjid. Tiba-tiba saja warga memanggilnya sebagai
Syeh Muso. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam
bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibak air laut dengan
tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding
laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

