Tampilkan postingan dengan label Triyanto Triwikromo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Triyanto Triwikromo. Tampilkan semua postingan

19 Januari 2012

Cerpen Triyanto Triwikromo: Wali Kesebelas

Para utusan Lurah Lading Kuning ingin membunuh dan membuang mayat Syeh Muso ke laut. Tetapi Syeh Bintoro ingin menunjukkan kepada warga kampung betapa sang penebar ajaran sesat hanyalah seekor anjing busuk.
 .
IA bukan pewarta agama. Dia juga tak pernah mengajak penduduk di kampung yang setiap senja tiba menjadi surga bangau itu mengaji di masjid. Tiba-tiba saja warga memanggilnya sebagai Syeh Muso. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibak air laut dengan tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

07 November 2011

Cerpen Triyanto Triwikromo: Burung Api Siti

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, “Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

TAK ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga, tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan.