SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari.
Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan
figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang,
namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang
mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan.
Syam manusia temaram. Yang cemerlang adalah benaknya. Dan matanya.
Matanya menatap tajam wajah dan tingkah-polah orang-orang di
sekitarnya. Menghunjam cemerlang, daya hunusnya kerap membuat orang tak
nyaman, dan mereka dalam hati menganggapnya menjengkelkan atau
menggentarkan.
