RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan
beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan
seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya
milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke
mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah
sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat
almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai
dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis
siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.
Tampilkan postingan dengan label Kompas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompas. Tampilkan semua postingan
17 April 2012
03 April 2012
Cerpen Mardi Luhung: Jembatan Tak Kembali
AKU akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang
sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi
nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan
kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang
berkabut. Dan berisi kesempurnaan.Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang
begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan.
Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu
berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu
halus. Deg-deg-deg surrr.29 Februari 2012
Cerpen Budi Darma: Laki-laki Pemanggul Goni
SETIAP kali akan sembahyang,
sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu
ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka
sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari
apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul
goni menembakkan matanya ke arah matanya.
Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.
Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.
31 Desember 2011
Cerpen Bakdi Soemanto: Tart di Bulan Hujan
“TERNYATA harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.
“Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.
“Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan,
saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu
harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu
keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,”
Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok
sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek.
“Ngerokok lagi,” tiba-tiba Sum sedikit membentak. “Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti.”
21 November 2011
Cerpen Sori Siregar: Kimpul
AWAN hitam merangkak pelan. Awan
seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat
tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan ini
memang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa
tempat.
Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Sejak pukul
delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun
singgah dan meminta jasanya. Biasanya, ia baru bergerak setelah hujan
rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah
besar. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras
mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di
tempat berteduh.
07 November 2011
Cerpen Triyanto Triwikromo: Burung Api Siti
Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para
pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya,
“Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”
TAK ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga, tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan.
TAK ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga, tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan.
26 Oktober 2011
Cerpen Akmal Nasery Basral: Epitaf bagi Sebuah Alibi
JAM meja memekik-mekik membangunkan
Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak
mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar
apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada
pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu
60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi,
sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.
“Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat.
“Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat.
16 Oktober 2011
Cerpen Yanusa Nugroho: Salawat Dedaunan
MASJID itu hanyalah sebuah bangunan
kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia
bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak
berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya.
Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik
putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa
dijumpai di toko-toko material.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah. Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah. Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.
03 Oktober 2011
Cerpen Agus Noor: Kunang Kunang di Langit Jakarta
IA kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan
kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau
Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan
karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama
George.
Mata Peter akan berbinar setiap menceritakannya. Ia termasuk keturunan langsung spesies kura-kura yang diamati Charles Darwin ketika merumuskan teori evolusinya pada abad ke-19. Berapa kali ia sudah mendengar Peter mengatakan itu? Kau harus melihat sendiri, betapa cakepnya kura-kura itu. Ia botak dan bermata besar. Ia tua dan kesepian memang. Namun, sebentar lagi ia akan punya keturunan.
Mata Peter akan berbinar setiap menceritakannya. Ia termasuk keturunan langsung spesies kura-kura yang diamati Charles Darwin ketika merumuskan teori evolusinya pada abad ke-19. Berapa kali ia sudah mendengar Peter mengatakan itu? Kau harus melihat sendiri, betapa cakepnya kura-kura itu. Ia botak dan bermata besar. Ia tua dan kesepian memang. Namun, sebentar lagi ia akan punya keturunan.
Langganan:
Postingan (Atom)






