Tampilkan postingan dengan label Koran Tempo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koran Tempo. Tampilkan semua postingan

28 April 2012

Cerpen Horacio Castellanos Moya: Copet

AKU mulai sering mengun jungi Café Imperial sejak aku pindah ke apartemen temanku Hernando Salcido, sebuah apartemen yang luas berperabot lengkap di Jalan Jesús y María yang akan menjadi milikku selama sebulan penuh karena temanku, istrinya, dan anak perempuannya sedang menikmati liburan musim panas di rumah pantai keluarga mereka di Fuengirola.

Aku mulai mengunjungi Café Imperial pada siang yang sama saat aku memindahkan barang-barangku ke apartemen Hernando dengan harapan bisa memiliki tempat yang leluasa dan cukup layak untuk tidur dengan Rita Mena yang penuh gairah.

28 Maret 2012

Cerpen Adi Zamzam: Lelaki Kucing Pasar

SEBUAH sudut di samping sebuah lapak tukang sol sepatu. Leret matanya meriap-riap begitu cahaya redup menemukan wajahnya. Belek menggumpal di kedua sudut matanya. Ia menggeliat sebentar, meregangkan kedua kaki depannya.
Seperti ada hewan buas dalam perutku. Karena hampir seharian tak kuberi jatah makan, ia menggigit-gigit dinding lambungku. Bau geliat pasar semakin membuatnya beringas, memaksaku segera melangkah ke arus keramaian. Aku harus bergegas karena keramaian itu biasanya hanya berlangsung tiga-empat jam saja.
Bulunya kelabu. Terlihat sangat kusam, penanda bahwa ia bukan piaraan. Ekornya tampak layu, mungkin lapar yang membuatnya begitu. Gelambir perutnya bergoyang-goyang saat ia melangkah gontai. Kedua matanya masih menyipit, mungkin menahan kantuk atau lapar.

20 Maret 2012

Cerpen Sunlie Thomas Alexander: Parfum

RASANYA ia berharap waktu membeku di dalam tenda kecil yang sedikit gerah itu. Sekali saja, agar ia bisa menikmati aroma parfum itu sepuas-puasnya.

Tidak. Kamu sama sekali bukanlah orang yang suka memakai parfum. Kecuali sesekali. Itu pun cuma parfum murahan yang kamu semprotkan sekenanya pada selembar kaos atau kemeja yang sudah tergantung berhari-hari di balik pintu kamar.
Tetapi entahlah, selalu saja ada perasaan tenteram di saat wewangian milik gadis itu terhirup dan memasuki jalan nafasmu. Dan aneh, kamu merasa dadamu lebih longgar dan pikiranmu segera menjadi segar.

16 Februari 2012

Cerpen Raudal Tanjung Banua: Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal. Ada pula yang menganggap sakit biri-biri karena sekujur badan penderita bengkak seperti biri-biri gemuk. Begitulah, untung tak dapat diraih, malang tak tertolak, kebersamaan kakek-nenek usailah sudah. Inti kalimat sedih sekaligus pasrah itu lekat dalam diri pamanku selamalamanya….

02 Februari 2012

Cerpen Nukila Amal: Syam, Bukan Matahari

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan.

Syam manusia temaram. Yang cemerlang adalah benaknya. Dan matanya. Matanya menatap tajam wajah dan tingkah-polah orang-orang di sekitarnya. Menghunjam cemerlang, daya hunusnya kerap membuat orang tak nyaman, dan mereka dalam hati menganggapnya menjengkelkan atau menggentarkan.

19 Januari 2012

Cerpen Triyanto Triwikromo: Wali Kesebelas

Para utusan Lurah Lading Kuning ingin membunuh dan membuang mayat Syeh Muso ke laut. Tetapi Syeh Bintoro ingin menunjukkan kepada warga kampung betapa sang penebar ajaran sesat hanyalah seekor anjing busuk.
 .
IA bukan pewarta agama. Dia juga tak pernah mengajak penduduk di kampung yang setiap senja tiba menjadi surga bangau itu mengaji di masjid. Tiba-tiba saja warga memanggilnya sebagai Syeh Muso. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibak air laut dengan tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

18 Desember 2011

Cerpen Budi Afandi: Bola Mata di Lubang Pintu

UJUNG telunjuk itu mendekati sakelar di tembok hijau muda. Begitu benda itu ditekan, warna terang menghilang, berganti berkas sinar yang merembes di tirai jendela, meninggalkan bayangan terali berbentuk trapesium. Tubuh sebentuk bayangan mendekati jendela, kedua tangannya memegang, lalu menyingkap ujung tirai. Seperti sedang memandang ke luar. Satu tarikan napas terdengar sebelum bayangan itu menggeret langkah menuju ranjang.“Sepertinya ada orang di luar.”