MASJID itu hanyalah sebuah bangunan
kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia
bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak
berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya.
Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik
putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa
dijumpai di toko-toko material.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah. Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.
Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah. Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.
