SEBUAH sudut di samping sebuah lapak tukang sol
sepatu. Leret matanya meriap-riap begitu cahaya redup menemukan
wajahnya. Belek menggumpal di kedua sudut matanya. Ia menggeliat
sebentar, meregangkan kedua kaki depannya.
Seperti ada hewan buas dalam perutku. Karena hampir seharian tak
kuberi jatah makan, ia menggigit-gigit dinding lambungku. Bau geliat
pasar semakin membuatnya beringas, memaksaku segera melangkah ke arus
keramaian. Aku harus bergegas karena keramaian itu biasanya hanya
berlangsung tiga-empat jam saja.
Bulunya kelabu. Terlihat sangat kusam, penanda bahwa ia bukan
piaraan. Ekornya tampak layu, mungkin lapar yang membuatnya begitu.
Gelambir perutnya bergoyang-goyang saat ia melangkah gontai. Kedua
matanya masih menyipit, mungkin menahan kantuk atau lapar.
