DARI atas tanggul, ia memandang lepas deras arus
bengawan yang kelam dan bergelombang bagai rambut ibunya. Matanya
memicing, memperhatikan luapan air yang perlahan surut. Seperti
biasanya, bila luapan air mulai surut, tepian bengawan itu akan dipenuhi
kerikil dan endapan-endapan pasir basah, yang bila mengering akan
tampak menggunduk seperti bukit-bukit kecil di padang gurun.
Ia hapal betul, kapan air akan meluap dan kapan akan surut. Dari
rumahnya ia dapat mendengar gemuruh air pasang. Sesekian waktu, bila
suara gemuruh itu merendah, artinya air telah surut dan ia akan menaiki
tanggul di tepian bengawan itu sambil membawa serok dan ciduk pasir yang
dibuatnya sendiri dari bekas kaleng kotak biskuit.
