Setiap kali mendung
menggamit langit dan angin menderu melanggar pepohonan di seberang masjid, ia
selalu tergoda menarik payung itu dari sangkutannya di belakang pintu kamar
ibu. Ya, ia selalu tergoda membukanya di udara terbuka ketika gerimis jatuh.
Maka diam-diam ia pun melakukannya. Berjingkat-jingkat ia melewati ruang tengah
dan ruang tamu, lalu berlari ke halaman setelah pelan-pelan menutup pintu.
Ia kembangkan payung itu di halaman. Memutar-mutar batang
besinya hingga tangkainya yang lebar ikut berputar cepat seperti putaran
baling-baling heli. Saat butir-butir hujan berjatuhan di atas kain payung,
secepat kilat butiran air itu terpeleset ke pinggir tangkai kain payung, lalu
deras terhempas ke segala arah seperti peluru. Tertawalah ia sambil ikut
berputar-putar, menari-nari.