“TERNYATA harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.
“Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.
“Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan,
saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu
harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu
keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,”
Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok
sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek.
“Ngerokok lagi,” tiba-tiba Sum sedikit membentak. “Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti.”
