Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

11 September 2013

Cerpen Kipanji Kusmin: Langit Makin Mendung

Cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanji Kusmin ini merupakan salah satu cerpen kontroversial di Indonesia. Cerpen yang sebenarnya bertendensi pada kritik sosial ini ramai dihakimi karena dianggap melecehkan agama Islam. Sampai-sampai ada sebuah buku yang berjudul Pledoi Sastra yang memuat perdebatan mengenai kekontroversialan cerpen tersebut.

Yang menjadi titik masalah adalah pemakaian Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh dalam cerpen. Hal itulah yang dianggap sebagai pelecehan terhadap Rasulullah. Sampai sekarang, perihal mengenai siapa Kipanji Kusmin sebenarnya masih belum dapat diungkap. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya Kipanji kusmin adalah HB Jassin sendiri yang selama polemik sebagai pembela cerpen ini dan pengarangnya.

28 April 2012

Cerpen Horacio Castellanos Moya: Copet

AKU mulai sering mengun jungi Café Imperial sejak aku pindah ke apartemen temanku Hernando Salcido, sebuah apartemen yang luas berperabot lengkap di Jalan Jesús y María yang akan menjadi milikku selama sebulan penuh karena temanku, istrinya, dan anak perempuannya sedang menikmati liburan musim panas di rumah pantai keluarga mereka di Fuengirola.

Aku mulai mengunjungi Café Imperial pada siang yang sama saat aku memindahkan barang-barangku ke apartemen Hernando dengan harapan bisa memiliki tempat yang leluasa dan cukup layak untuk tidur dengan Rita Mena yang penuh gairah.

24 April 2012

Cerpen Dadang Ari Murtono: Mengharap Kematian

BARANGKALI, semua orang ingin tahu kapan tepatnya mereka akan mati. Barangkali semua orang menginginkan hal yang baik dan indah pada hari kematiannya. Ya, ujung perjalanan yang baik. Kebaikan yang akan membawa mereka ke surga. Dan, itu pula alasan bagi lelaki itu berusaha demikian keras untuk mengetahui kapan pastinya ia akan mati.

Entah sudah berapa lama ia berusaha mencari tahu. Entah sudah berapa peramal yang ia datangi. Entah sudah berapa orang pintar yang ia mintai petunjuk. Setiap ia mendengar tentang seseorang yang dianggap pintar atau dukun, ia pasti akan mendatangi orang tersebut. Tak peduli di mana orang itu tinggal. Ia tak lagi ingat berapa gunung yang ia daki atau laut yang ia seberangi untuk bertemu orang-orang seperti itu. Tak terhitung pula berapa punden dan tempat-tempat yang dianggap wingit yang ia datangi untuk bersemedi. Semua itu untuk mendapat petunjuk yang gamblang tentang hari pasti kematiannya.

17 April 2012

Cerpen A Mustofa Bisri: Nyai Sobir

RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. Mereka bawa almarhum ke mesjid yang sudah penuh sesak untuk mereka sembahyangi. Aku setengah sadar mengikuti upacara pelepasan jenazah. Kiai Salman, sahabat almarhum, yang memberi sambutan atas nama keluarga. Lalu beberapa kiai dari berbagai daerah memanjatkan doa; tapi aku tak tahu persis siapa-siapa mereka. Aku hanya asal mengamini.

10 April 2012

Cerpen Guntur Alam: Tiga Cerita tentang Lidah

1. Kematian si Pahit Lidah
Cerita ini tentang Mak Yun, perempuan berumur yang meninggal petang Sabtu kemarin. Perempuan tua nyinyir yang terkenal tukang ber-ghibah. Gosip apa yang hendak kau tanyakan? Perihal Mang Akem yang baru saja berbini dua? Atau tentang Bi Inar yang telah pisah ranjang selama tiga purnama dengan lakinya gara-gara cemburu buta. Mungkin pula kau hendak tahu desas-desus yang beredar mengenai Mang Mahmud yang kaya mendadak di Tanah Abang. Oi, tak ada berita yang tak diketahui Mak Yun. Bila kau dengar cerita darinya lengkap dengan rumor yang tak jelas benar atau salah, asli ataukah telah ditambah-tambah biar sedap, kau akan berkata penuh mufakat: alangkah rincak lidah perempuan tua ini menyusun cerita.

03 April 2012

Cerpen Mardi Luhung: Jembatan Tak Kembali

AKU akan bercerita pada kalian. Bercerita tentang sebuah jembatan. Namanya adalah Jembatan Tak Kembali. Mengapa diberi nama demikian? Karena, setiap yang menyeberang di jembatan itu, tak akan kembali. Disergap oleh batas yang ada di seberang sana. Seberang yang berkabut. Dan berisi kesempurnaan.Dan sebagai jembatan, maka Jembatan Tak Kembali adalah jembatan yang begitu indah. Kerangkanya berwarna merah. Punggungnya kuning keemasan. Sedangkan pagar pembatas samping kiri-kanannya seakan-akan selalu berputar pelan. Seperti berputarnya jarum jam yang bunyinya begitu halus. Deg-deg-deg surrr.

28 Maret 2012

Cerpen Adi Zamzam: Lelaki Kucing Pasar

SEBUAH sudut di samping sebuah lapak tukang sol sepatu. Leret matanya meriap-riap begitu cahaya redup menemukan wajahnya. Belek menggumpal di kedua sudut matanya. Ia menggeliat sebentar, meregangkan kedua kaki depannya.
Seperti ada hewan buas dalam perutku. Karena hampir seharian tak kuberi jatah makan, ia menggigit-gigit dinding lambungku. Bau geliat pasar semakin membuatnya beringas, memaksaku segera melangkah ke arus keramaian. Aku harus bergegas karena keramaian itu biasanya hanya berlangsung tiga-empat jam saja.
Bulunya kelabu. Terlihat sangat kusam, penanda bahwa ia bukan piaraan. Ekornya tampak layu, mungkin lapar yang membuatnya begitu. Gelambir perutnya bergoyang-goyang saat ia melangkah gontai. Kedua matanya masih menyipit, mungkin menahan kantuk atau lapar.

20 Maret 2012

Cerpen Sunlie Thomas Alexander: Parfum

RASANYA ia berharap waktu membeku di dalam tenda kecil yang sedikit gerah itu. Sekali saja, agar ia bisa menikmati aroma parfum itu sepuas-puasnya.

Tidak. Kamu sama sekali bukanlah orang yang suka memakai parfum. Kecuali sesekali. Itu pun cuma parfum murahan yang kamu semprotkan sekenanya pada selembar kaos atau kemeja yang sudah tergantung berhari-hari di balik pintu kamar.
Tetapi entahlah, selalu saja ada perasaan tenteram di saat wewangian milik gadis itu terhirup dan memasuki jalan nafasmu. Dan aneh, kamu merasa dadamu lebih longgar dan pikiranmu segera menjadi segar.

14 Maret 2012

Cerpen Mashdar Zainal: Penggali Pasir

DARI atas tanggul, ia memandang lepas deras arus bengawan yang kelam dan bergelombang bagai rambut ibunya. Matanya memicing, memperhatikan luapan air yang perlahan surut. Seperti biasanya, bila luapan air mulai surut, tepian bengawan itu akan dipenuhi kerikil dan endapan-endapan pasir basah, yang bila mengering akan tampak menggunduk seperti bukit-bukit kecil di padang gurun.

Ia hapal betul, kapan air akan meluap dan kapan akan surut. Dari rumahnya ia dapat mendengar gemuruh air pasang. Sesekian waktu, bila suara gemuruh itu merendah, artinya air telah surut dan ia akan menaiki tanggul di tepian bengawan itu sambil membawa serok dan ciduk pasir yang dibuatnya sendiri dari bekas kaleng kotak biskuit.

29 Februari 2012

Cerpen Budi Darma: Laki-laki Pemanggul Goni

SETIAP kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya.

Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.

16 Februari 2012

Cerpen Raudal Tanjung Banua: Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

PAMANKU bernama Untung Sudah—nama dengan segala arti dan makna. Dia sendiri menceritakan perihal namanya ini dengan mencampur-adukkan cerita nenek dan ayahku yang pernah kudengar. Kata Nenek (tiga kali Al-Fatihah untuknya), ketika ia mengandung, suaminya meninggal karena sakit. Tak diketahui pasti apa penyakitnya. Ada yang bilang sakit kuning sebab mata kakek terlihat menguning sebelum ajal. Ada pula yang menganggap sakit biri-biri karena sekujur badan penderita bengkak seperti biri-biri gemuk. Begitulah, untung tak dapat diraih, malang tak tertolak, kebersamaan kakek-nenek usailah sudah. Inti kalimat sedih sekaligus pasrah itu lekat dalam diri pamanku selamalamanya….

02 Februari 2012

Cerpen Nukila Amal: Syam, Bukan Matahari

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan.

Syam manusia temaram. Yang cemerlang adalah benaknya. Dan matanya. Matanya menatap tajam wajah dan tingkah-polah orang-orang di sekitarnya. Menghunjam cemerlang, daya hunusnya kerap membuat orang tak nyaman, dan mereka dalam hati menganggapnya menjengkelkan atau menggentarkan.

19 Januari 2012

Cerpen Triyanto Triwikromo: Wali Kesebelas

Para utusan Lurah Lading Kuning ingin membunuh dan membuang mayat Syeh Muso ke laut. Tetapi Syeh Bintoro ingin menunjukkan kepada warga kampung betapa sang penebar ajaran sesat hanyalah seekor anjing busuk.
 .
IA bukan pewarta agama. Dia juga tak pernah mengajak penduduk di kampung yang setiap senja tiba menjadi surga bangau itu mengaji di masjid. Tiba-tiba saja warga memanggilnya sebagai Syeh Muso. Dia tidak bisa berjalan di atas air, tetapi dalam bisik-bisik di kampung nelayan itu, dia dapat menyibak air laut dengan tongkat. Dia bisa berjalan di dasar laut dan melihat dinding-dinding laut yang terbelah itu sebagai kolam ikan raksasa.

09 Januari 2012

Cerpen Sanie B. Kuncoro: Kredit Janda

PAGI datang. Cahaya matahari bergegas mengeringkan basah embun sisa semalam. Helai-helai daun yang lembab bergetar lembut pada reranting penumbuhnya, seolah siap bersegera menyerap sinar matahari sebagai menu sarapan untuk akar dan batang pohon. Serupa denganmu yang memantik api demi mematangkan hidangan sarapan.

Kau tambahkan sebilah kayu bakar pada lubang di antara potongan bata yang tersusun sebagai tungku. Segera api membesar, bertambah daya panasnya untuk mendidihkan sepanci air yang terjerang di atasnya. Kau lepas simpul karung beras, harus kau cuci beras itu dengan segera sebelum air mendidih. Namun gerak sigapmu terhenti, bayang tubuh kecil anakmu di ambang pintu dapur seketika membuatmu membeku.

31 Desember 2011

Cerpen Bakdi Soemanto: Tart di Bulan Hujan

“TERNYATA harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu, Pak,” kata Sum kepada lakinya, Uncok.
“Barang apa yang kau bicarakan itu, kok mahal amat?” bertanya suaminya.
“Lho, musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga, kan, saya bilang, Pak, roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. Roti itu besar, cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Tapi, sekarang naik dua puluh lima ribu,” Sum mencoba menjelaskan. Lakinya tetap tak paham. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek.
“Ngerokok lagi,” tiba-tiba Sum sedikit membentak. “Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti.”

18 Desember 2011

Cerpen Budi Afandi: Bola Mata di Lubang Pintu

UJUNG telunjuk itu mendekati sakelar di tembok hijau muda. Begitu benda itu ditekan, warna terang menghilang, berganti berkas sinar yang merembes di tirai jendela, meninggalkan bayangan terali berbentuk trapesium. Tubuh sebentuk bayangan mendekati jendela, kedua tangannya memegang, lalu menyingkap ujung tirai. Seperti sedang memandang ke luar. Satu tarikan napas terdengar sebelum bayangan itu menggeret langkah menuju ranjang.“Sepertinya ada orang di luar.”

21 November 2011

Cerpen Sori Siregar: Kimpul

AWAN hitam merangkak pelan. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat.

Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun singgah dan meminta jasanya. Biasanya, ia baru bergerak setelah hujan rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah besar. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di tempat berteduh.

07 November 2011

Cerpen Triyanto Triwikromo: Burung Api Siti

Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Para pembunuh terbakar. Tubuh mereka menyala. Siti bertanya, “Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua?”

TAK ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga, tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan.

26 Oktober 2011

Cerpen Akmal Nasery Basral: Epitaf bagi Sebuah Alibi

JAM meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm, melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran, sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi, sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga.

“Astaga!” pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Isi perutnya bergolak, memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Dipandanginya lagi cermin. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya, terus menggeliat.

16 Oktober 2011

Cerpen Yanusa Nugroho: Salawat Dedaunan

MASJID itu hanyalah sebuah bangunan kecil saja. Namun, jika kau memperhatikan, kau akan segera tahu usia bangunan itu sudah sangat tua. Temboknya tebal, jendelanya tak berdaun—hanya lubang segi empat dengan lengkungan di bagian atasnya. Begitu juga pintunya, tak berdaun pintu. Lantainya menggunakan keramik putih—kuduga itu baru kemudian dipasang, karena modelnya masih bisa dijumpai di toko-toko material.


Masjid itu kecil saja, mungkin hanya bisa menampung sekitar 50 orang berjemaah. Namun, halaman masjid itu cukup luas. Dan di hadapan bangunan masjid itu tumbuh pohon trembesi yang cukup besar. Mungkin saja usianya sudah ratusan tahun. Mungkin saja si pembangun masjid ini dulunya berangan-angan betapa sejuknya masjid ini di siang hari karena dinaungi pohon trembesi. Mungkin saja begitu.